Yuk Simak, Bincang Pagi Bersama Agoes Hendriyanto di Pro #1 RRI   Bukittinggi 94,80

  • Whatsapp
banner 468x60

ARAHNET.COM || BUKITTINGGI – Bincang Pagi Pro # 1 RRI Bukittinggi 94,80 dalam rangka menyambut Hari Pendidikan Nasional yang dilaksanakan pada tanggal 2 Mei 2021 mengangkat tema “Serentak Bergerak, Mewujudkan Merdeka Belajar”, pembawa acara Jhoni Marbeta dengan narasumber Agoes Hendriyanto, M.Pd, dilaksanakan secara daring, Minggu (2/5/2021).

Narasumber Agoes Hendriyanto  berprofesi sebagai  Dosen, jurnalis, penulis, peneliti  dan sekarang sedang menyelesaikan  Disertasi Doktornya di Sekolah Pasca Sarjana UNS Surakarta.

Jhoni Marbeta dari Pro #1 RRI Bukittinggi 94,80, memulai perbincangan pagi dengan menanyakan,  bagaimana kondisi Pendidikan di Indonesia pada masa Pandemi Covid-19 ?

Kita lihat dulu kondisi pendidikan kita sebelum Pandemi Covid-19.  Berdasarkan suvey yang dilakukan oleh PISA (Program For International Student Assesmen) dengan indikator penilaian yaitu literasi dalam bidang sosial, literasi matematika dan literasi sains sebagai berikut:

  1. Tahun 2009 Indonesia menempati peringkat ke 57 dari 65 negara
  2. Tahun 2012 Indonesia menempati peringkat 64 dari 65 negara.
  3. Tahun 2015 Indonesia peringkat 64 dari 72 negara.
  4. Tahun 2018 Indonesia peringkat 74 dari 79 negara dengan skor 371.

Melihat kondisi tersebut di atas membuktikan bahwa kualitas pendidikan Indonesia dengan indikator rata-rata tingkat kemampuan literasi , literasi matematika, dan literasi sains sangat rendah di bawah rata-rata dunia .  Untuk skor rata-rata dunia; Literasi skornya 487,  kemampuan matematika 489, dan kemampuan sains 498.  Apalagi jika kita bandingkan dengan Singapura dengan rata-rata skornya 549, sedangkan RRC dengan rata-rata skornya 555.  Silakan saudara jawab sendiri bagaimana kondisi Pendidikan di Indonesia saat Pandemi Covid-19, “ tegas Agoes Hendriyanto yang juga Direktur Komunitas Pengembangan Sosial   Budaya Pacitan.

“Jika dari hasil surve tersebut di atas kita melihat bahwa  tingkat literasi sangat jauh dari rerata Global.  Oleh sebab itu kita harus bersinergi untuk mengejar  sesuai dengan tema hari Pendidikan Nasional tahun ini “Serentak Bergerak, Mewujudkan Merdeka Belajar”.   Janganlah kita pesimis untuk itu semua.  Sekarang kita harus bergerak dan berusaha secara bersama-sama apapun peran kita baik Dosen, Guru, Siswa, Mahasiswa, Pemerintah, Politisi, Usahawan, tokoh masyarakah, dan masyarakat untuk bersama-sama membulatkan tekad untuk meningkatkan skor literasi Indonesia,“ jelas Agoes Hendriyanto.

Jhoni Marbeta dari Pro # 1 RRI Bukitinggi, berkaitan dengan mata pelajaran Bahasa Indonessia dan Pancasila yang akan dihapus ?

Agoes Hendriyanto memberikan apresiasi kepada Komisi X DPR RI, berkaitan dengan “Perlunya revisi PP 57/2021 tentang Standar Nasional Pendidikan terkait (Mata Kuliah Pancasila dan Bahasa Indonesia), serta kepada Mas Menteri Nadiem Makarim yang  mendengarkan aspirasi dari masyarakat pendidikan di Indonesia.

“Saya mendorong untuk dilakukan refisi PP tersebut dengan alasan.  Bahasa Indonesia keberadaannya sebagai perwujudan dari semangat generasi muda Indonesia saat itu tahun 1928 dalam Sumpah Pemuda dengan menyatukan berbagai bahasa di Indonesia yang sangat beragam.  Pemuda Jawa yang saat itu mempunyai pengguna yang besar jika dibandingkan dengan bahasa daerah lainnnya bersedia mengakui Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Persatuan bahasa Indonesia.  Jika kita gantikan atau kita hapus maka roh Pendidikan kita akan hilang, nilai persatuan dan kesatuan yang menyatukan tekad kita akan hilang.  Selain itu juga Pancasila sebagai mata pelajaran juga tidak terlepas dari perjuangan Bangsa Indonesia sebagai Republik Indonesia.  Sehingga mata pelajaran Pancasila dan Bahasa Indonesia harus ada sebagai roh Pendidikan di Indonesia, “ tegas Agoes Hendriyanto.

Apalagi kalau kita melihat dari jumlah APBN 2021 yang dialokasikan untuk pendidikan senilai Rp. 550 T rinciannya untuk: 1) pengeluaran dan pembiayaan Rp. 66.4 T (12,1%); 2) Kemendikbud Rp. 81,5 T (14,8%); 3) Kemenag Rp. 55,8 T (10,2%) K/L lainnya Rp. 23,1 T ( atau (4,4 %); 4) Babun Rp. 24,01 T (4,4 %) dan Transfer Daerah Rp. 299.1 T ( 54,4%) dalam bentuk DAU, DAK Non Fisik, DAK Fisik, DAK Otsus, DID), ” jelas Agoes Hendriyanto  mengutip dari pernyataan  Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dr. Abdul Fikih Faqih dari laman Prabangkaranews.com.

Pertanyaan dari Jhoni Marbeta dari Pro 1 RRI Bukittinggi 94,80, berkaitan dengan semboyan dari Ki Hadjar Dewantara; Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, wujudnya pada sistem Pendidikan di Indonesia ?

Agoes Hendriyanto menjawab dengan diplomatis, Semboyan tersebut mengandung arti “Ing Ngarsa Sung Tulada,  arti ing ngarsa sung tulada yaitu seorang guru adalah pendidik yang harus memberi contoh atau menjadi panutan. Coba lihat realitas masayrakat kita yang sudah terjebak pada permainan symbol-simbol Modernitas.  Silakan dijawab sendiri bagaimana peserta didik yang membutuhkan contoh disuguhi dengan citra simbolik terhadap barang.  Apalagi sekarang ini Desa telah berubah menjadi  Desa Global, dengan jangkauan  internet masuk desa-desa.  Oleh sebab itu perlu adanay sebuah inovasi dan terobosan untuk memanfaatkan kemajuan Teknologi Informatika.  Jangan dijadikan  alasan namun jadikan sebagai pemacu kita khususnya yang terlibat dalam Pendidikan Indonesia meningkatkan inovasi dan kreatifitas.  Yakinlah bahwa kita Bisa.

Semboyan kedua, yaitu “Ing Madya Mangun Karsa”, artinya seorang guru adalah pendidik yang selalu berada di tengah-tengah para muridnya dan terus-menerus membangun semangat dan ide-ide mereka untuk berkarya. Kemudian semboyan ketiga adalah “tut wuri handayani” yang bermakna seorang guru adalah pendidik yang terus-menerus menuntun, menopang, dan menunjuk arah yang benar bagi hidup dan karuya anak-anak didiknya. Silakan dijawab sendiri untuk  dengan uraian tersebut, “ jawab Agoes Hendriyanto.

Berkaitan dengan digabungnya kembali Ristek ke Kemendikbud, Apakah tidak membebani Mas Nadiem Makarim.  Hal ini sangat tergantung dari bagaimana kemampuan untuk menyatukan semua ide, dan konsep yang sangat beragam dalam memajukan Pendidikan Indonesia.  Bagaimana kemampuan untuk mengelola itu semua menjadi sebuah kekuatan untuk bersama-sama menyongsong masa depan.  Kita dukung kebijakannya dalam rangka untuk membuat terobosan yang sangat dibutuhkan pada masa Pandemi.

Marilah kita bergandengan tangan bersinergi untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah Kita berusahan sesuai dengan peran kita masing-masing di masyarakat.  Palagi dalam masa Pendemi Covid-19 memerlukan pemikiran dan kerja keras untuk mengejar ketertinggalan dengan Negara lain.  Tidak mungkin kita lakukan secara sendiri-sendiri, namun harus bersama-sama serentak mewujudkan merdeka belajar.  Saatnya kita untuk melakukan pembelajaran yang fokus pada peningkatan kemampuan kompetensi siswa dan mahasiswa , “ jawab Agoes mengakhiri perbincangan dengan Pro # 1 RRI Bukittinggi 94,80.

Penulis: Agoes Hendriyanto

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *